Ayat Al-Quran dan Hadits tentang Berbuat Baik atau Ihsan Terhadap Manusia

0

Ayat Al-Quran dan Hadits tentang Berbuat Baik atau Ihsan Terhadap Manusia. (Lanjutan Materi Memperoleh Rahmat Allah Dengan Berbuat Ihsan)

Ayat Al-Quran dan Hadits tentang Berbuat Baik atau Ihsan Terhadap Manusia   (Lanjutan Materi Memperoleh Rahmat Allah Dengan Berbuat Ihsan)      Ayat Al-Quran Tentang Berbuat Baik Terhadap Manusia: QS. Al-Baqarah/2: 83     وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ    “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah/2: 83)    Hukum Tajwid QS. Al-Baqarah/2: 83    Ayat Al-Quran dan Hadits tentang Berbuat Baik Terhadap Manusia   (Lanjutan Materi Memperoleh Rahmat Allah Dengan Berbuat Ihsan)    Ayat Al-Quran Tentang Berbuat Baik Terhadap Manusia: QS. Al-Baqarah/2: 83     وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ    “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah/2: 83)    Hukum Tajwid QS. Al-Baqarah/2: 83        Isi QS. Al-Baqarah/2: 83    Dalam ayat di atas Allah Swt. mengingatkan Nabi Muhammad saw. atas janji  Bani Israil yang harus mereka penuhi, yaitu bahwa mereka tidak akan menyembah sesuatu selain Allah Swt.. Hal ini merupakan hak yang paling tinggi dan paling besar, yaitu hak Allah Swt. yang mengharuskan agar Dia semata yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya.    Setelah itu baru hak makhluk, yaitu disusul dengan perintah berbuat baik kepada orangtua, amal kebajikan tertinggi, karena melalui kedua orangtua itulah Allah Swt. menciptakan manusia. Karena itu, Allah Swt. selalu membarengi hak kedua orang tua dengan hak-Nya.    Sesudah Allah Swt. menyebut hak kedua orangtua, disebutkan pula hak kerabat (kaum keluarga), yaitu berbuat kebajikan kepada mereka. Kemudian Allah Swt. menyebut hak orang-orang yang memerlukan bantuan, yaitu anak yatim dan orang miskin. Allah Swt. mendahulukan menyebut anak yatim daripada orang miskin karena orang miskin dapat berusaha sendiri, sedangkan anak yatim karena masih kecil belum sanggup untuk itu.     Setelah memerintahkan berbuat baik kepada orangtua, keluarga, anak yatim, dan orang miskin, Allah Swt. memerintahkan agar mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama manusia.    Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada Bani Israil agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Ruh salat itu adalah keikhlasan dan ketundukan kepada Allah Swt.. Tanpa ruh itu salat tidak ada maknanya apaapa. Orang-orang Bani Israil mengabaian ruh tersebut dari dulu hingga turun al-Qur'an, bahkan sampai sekarang. Demikian juga dengan zakat. Kewajiban zakat bagi kaum Bani Israil juga mereka ingkari. Hanya sedikit orang-orang yang mau mentaati perintah Allah Swt. pada masa Nabi Musa dan pada setiap zaman.    Pada akhir ayat Allah menayatakan “dan kamu masih menjadi pembangkang”. Ini menunjukkan kebaiasaan orang-orang Bani Israil dalam menyikapi perintah Allah, yaitu “membangkang”, sehingga tersebarlah kemungkaran dan tuunlah azab Allah kepada mereka.    2. Hadits Riwayat Muslim Tentang Berbuat Baik Kepada Sesama    Hadis yang terkait dengan perintah berbuat Ihsan juga banyak sekali. Setiap hadis yang mengandung perintah berbuat baik kepada sesama manusia, melarang berbuat kerusakan, atau perintah beribadah kepada Allah Swt., itu semua merupakan perintah berbuat Ihsan. Di antara hadis yang dengan tegas menyatakan agar kita berbuat Ihsan adalah sabda Rasulullah saw. berikut:    عن شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ : إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ِ – رواه مسلم في صحيحه    Artinya: Dari Syadad bin Aus, bahwa Rasulullah saw. bersabda:“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan atas segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya”. (HR. Muslim).    Isi Hadits    Dalam hadis riwayat Muslim di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegasan bahwa sikap dan perilaku Ihsan itu diperintahkan oleh Allah Swt. dalam semua bidang kehidupan. Pada surat al-Baqarah terdapat contoh pihak-pihak yang berhak mendapat perlakuan Ihsan.     Lebih lanjut, dalam hadis ini Rasulullah saw memberikan contoh lain tentang cara berlaku Ihsan. Jika harus membunuh (dalam peperangan), maka harus dilakukan dengan baik, dilakukan karena Allah Swt., bukan karena dendam atau yang lain, dan tidak pula menganiaya. Bahkan jika musuh menyerah, maka tidak boleh dibunuh.     Kemudian pada bagian akhir dari hadis, Rasulullah saw mengajarkan cara berlaku Ihsan kepada binatang dengan menjelaskan adab menyembelih, yaitu agar pisau ditajamkan, dan binatang yang mau disembelih pun dibuat senang, dengan memberikan makan yang cukup. Jika binatang saja harus dipelakukan demikian, apalagi sesama manusia.    Berperilaku Mulia Sesuai Tuntunan Al-Quran dan Hadits    Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi yaitu: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur dalam beramal. Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selama hal itu adalah sesuatu yang diridhaiNya dan dianjurkan untuk melaksanakannya.    Untuk dapat naik ke maratabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.    Sikap dan perilaku terpuji  yang harus dikembangkan terait dengan Ihsan ialah semua perbuatan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada sesama makhluk ciptaanNya. Secara ringkas perilaku tersebut ialah:   1. Menjadikan masalah tauhid dan larangan syirik sebagai materi utama dalam menyampaikan nasihat  2. Melakukan ibadah ritual (salat, zikir, dan sebagainya) dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan;  3. Birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua), dengan mengikuti semua keinginannya jika memungkinkan, dengan syarat tidak bertentangan dengan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala;  4. Menjalin hubungan baik dengan kerabat;  5. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin;  6. Berbuat baik kepada tetangga;  7. Berbuat baik kepada teman sejawat;  8. Berbuat baik kepada tamu dengan memberikan jamuan dan penginapan sebatas kemampuan;  9. Berbuat baik kepada karyawan/pembantu dengan membayarkan upah sesuai perjanjian;  10. Membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik;  11. Membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan serupa;  12. Berlaku baik kepada binatang, dengan memelihara atau memperlakukannya dengan baik. Jika  menyembelih ataupun membunuh, lakukan dengan adab yang baik dan tidak ada unsur penganiayaan;  13. Menjaga kelestarian lingkungan, baik daratan maupun lautan dan tidak melakukan tindakan yang merusak.      Isi QS. Al-Baqarah/2: 83    Dalam ayat di atas Allah Swt. mengingatkan Nabi Muhammad saw. atas janji  Bani Israil yang harus mereka penuhi, yaitu bahwa mereka tidak akan menyembah sesuatu selain Allah Swt.. Hal ini merupakan hak yang paling tinggi dan paling besar, yaitu hak Allah Swt. yang mengharuskan agar Dia semata yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya.    Setelah itu baru hak makhluk, yaitu disusul dengan perintah berbuat baik kepada orangtua, amal kebajikan tertinggi, karena melalui kedua orangtua itulah Allah Swt. menciptakan manusia. Karena itu, Allah Swt. selalu membarengi hak kedua orang tua dengan hak-Nya.    Sesudah Allah Swt. menyebut hak kedua orangtua, disebutkan pula hak kerabat (kaum keluarga), yaitu berbuat kebajikan kepada mereka. Kemudian Allah Swt. menyebut hak orang-orang yang memerlukan bantuan, yaitu anak yatim dan orang miskin. Allah Swt. mendahulukan menyebut anak yatim daripada orang miskin karena orang miskin dapat berusaha sendiri, sedangkan anak yatim karena masih kecil belum sanggup untuk itu.     Setelah memerintahkan berbuat baik kepada orangtua, keluarga, anak yatim, dan orang miskin, Allah Swt. memerintahkan agar mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama manusia.    Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada Bani Israil agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Ruh salat itu adalah keikhlasan dan ketundukan kepada Allah Swt.. Tanpa ruh itu salat tidak ada maknanya apaapa. Orang-orang Bani Israil mengabaian ruh tersebut dari dulu hingga turun al-Qur'an, bahkan sampai sekarang. Demikian juga dengan zakat. Kewajiban zakat bagi kaum Bani Israil juga mereka ingkari. Hanya sedikit orang-orang yang mau mentaati perintah Allah Swt. pada masa Nabi Musa dan pada setiap zaman.    Pada akhir ayat Allah menayatakan “dan kamu masih menjadi pembangkang”. Ini menunjukkan kebaiasaan orang-orang Bani Israil dalam menyikapi perintah Allah, yaitu “membangkang”, sehingga tersebarlah kemungkaran dan tuunlah azab Allah kepada mereka.    2. Hadits Riwayat Muslim Tentang Berbuat Baik Kepada Sesama    Hadis yang terkait dengan perintah berbuat Ihsan juga banyak sekali. Setiap hadis yang mengandung perintah berbuat baik kepada sesama manusia, melarang berbuat kerusakan, atau perintah beribadah kepada Allah Swt., itu semua merupakan perintah berbuat Ihsan. Di antara hadis yang dengan tegas menyatakan agar kita berbuat Ihsan adalah sabda Rasulullah saw. berikut:    عن شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ : إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ِ – رواه مسلم في صحيحه    Artinya: Dari Syadad bin Aus, bahwa Rasulullah saw. bersabda:“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan atas segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya”. (HR. Muslim).    Isi Hadits    Dalam hadis riwayat Muslim di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegasan bahwa sikap dan perilaku Ihsan itu diperintahkan oleh Allah Swt. dalam semua bidang kehidupan. Pada surat al-Baqarah terdapat contoh pihak-pihak yang berhak mendapat perlakuan Ihsan.     Lebih lanjut, dalam hadis ini Rasulullah saw memberikan contoh lain tentang cara berlaku Ihsan. Jika harus membunuh (dalam peperangan), maka harus dilakukan dengan baik, dilakukan karena Allah Swt., bukan karena dendam atau yang lain, dan tidak pula menganiaya. Bahkan jika musuh menyerah, maka tidak boleh dibunuh.     Kemudian pada bagian akhir dari hadis, Rasulullah saw mengajarkan cara berlaku Ihsan kepada binatang dengan menjelaskan adab menyembelih, yaitu agar pisau ditajamkan, dan binatang yang mau disembelih pun dibuat senang, dengan memberikan makan yang cukup. Jika binatang saja harus dipelakukan demikian, apalagi sesama manusia.    Berperilaku Mulia Sesuai Tuntunan Al-Quran dan Hadits    Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi yaitu: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur dalam beramal. Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selama hal itu adalah sesuatu yang diridhaiNya dan dianjurkan untuk melaksanakannya.    Untuk dapat naik ke maratabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.    Sikap dan perilaku terpuji  yang harus dikembangkan terait dengan Ihsan ialah semua perbuatan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada sesama makhluk ciptaanNya. Secara ringkas perilaku tersebut ialah:   1. Menjadikan masalah tauhid dan larangan syirik sebagai materi utama dalam menyampaikan nasihat  2. Melakukan ibadah ritual (salat, zikir, dan sebagainya) dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan;  3. Birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua), dengan mengikuti semua keinginannya jika memungkinkan, dengan syarat tidak bertentangan dengan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala;  4. Menjalin hubungan baik dengan kerabat;  5. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin;  6. Berbuat baik kepada tetangga;  7. Berbuat baik kepada teman sejawat;  8. Berbuat baik kepada tamu dengan memberikan jamuan dan penginapan sebatas kemampuan;  9. Berbuat baik kepada karyawan/pembantu dengan membayarkan upah sesuai perjanjian;  10. Membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik;  11. Membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan serupa;  12. Berlaku baik kepada binatang, dengan memelihara atau memperlakukannya dengan baik. Jika  menyembelih ataupun membunuh, lakukan dengan adab yang baik dan tidak ada unsur penganiayaan;  13. Menjaga kelestarian lingkungan, baik daratan maupun lautan dan tidak melakukan tindakan yang merusak.

Ayat Al-Quran Tentang Berbuat Baik Terhadap Manusia: QS. Al-Baqarah/2: 83 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah/2: 83)

Hukum Tajwid QS. Al-Baqarah/2: 83

Hukum Tajwid QS. Al-Baqarah/2: 83, Hukum Tajwid QS. Al-Baqarah: 83, Hukum Tajwid QS. Al-Baqarah ayat 83

Isi QS. Al-Baqarah/2: 83

Dalam ayat di atas Allah Swt. mengingatkan Nabi Muhammad saw. atas janji  Bani Israil yang harus mereka penuhi, yaitu bahwa mereka tidak akan menyembah sesuatu selain Allah Swt.. Hal ini merupakan hak yang paling tinggi dan paling besar, yaitu hak Allah Swt. yang mengharuskan agar Dia semata yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya.

Setelah itu baru hak makhluk, yaitu disusul dengan perintah berbuat baik kepada orangtua, amal kebajikan tertinggi, karena melalui kedua orangtua itulah Allah Swt. menciptakan manusia. Karena itu, Allah Swt. selalu membarengi hak kedua orang tua dengan hak-Nya.

Sesudah Allah Swt. menyebut hak kedua orangtua, disebutkan pula hak kerabat (kaum keluarga), yaitu berbuat kebajikan kepada mereka. Kemudian Allah Swt. menyebut hak orang-orang yang memerlukan bantuan, yaitu anak yatim dan orang miskin. Allah Swt. mendahulukan menyebut anak yatim daripada orang miskin karena orang miskin dapat berusaha sendiri, sedangkan anak yatim karena masih kecil belum sanggup untuk itu. 

Setelah memerintahkan berbuat baik kepada orangtua, keluarga, anak yatim, dan orang miskin, Allah Swt. memerintahkan agar mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama manusia.

Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada Bani Israil agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Ruh salat itu adalah keikhlasan dan ketundukan kepada Allah Swt.. Tanpa ruh itu salat tidak ada maknanya apaapa. Orang-orang Bani Israil mengabaian ruh tersebut dari dulu hingga turun al-Qur'an, bahkan sampai sekarang. Demikian juga dengan zakat. Kewajiban zakat bagi kaum Bani Israil juga mereka ingkari. Hanya sedikit orang-orang yang mau mentaati perintah Allah Swt. pada masa Nabi Musa dan pada setiap zaman.

Pada akhir ayat Allah menayatakan “dan kamu masih menjadi pembangkang”. Ini menunjukkan kebaiasaan orang-orang Bani Israil dalam menyikapi perintah Allah, yaitu “membangkang”, sehingga tersebarlah kemungkaran dan tuunlah azab Allah kepada mereka.

2. Hadits Riwayat Muslim Tentang Berbuat Baik Kepada Sesama

Hadis yang terkait dengan perintah berbuat Ihsan juga banyak sekali. Setiap hadis yang mengandung perintah berbuat baik kepada sesama manusia, melarang berbuat kerusakan, atau perintah beribadah kepada Allah Swt., itu semua merupakan perintah berbuat Ihsan. Di antara hadis yang dengan tegas menyatakan agar kita berbuat Ihsan adalah sabda Rasulullah saw. berikut:

عن شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ : إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ِ – رواه مسلم في صحيحه

Artinya: Dari Syadad bin Aus, bahwa Rasulullah saw. bersabda:“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan atas segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya”. (HR. Muslim).

Isi Hadits

Dalam hadis riwayat Muslim di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegasan bahwa sikap dan perilaku Ihsan itu diperintahkan oleh Allah Swt. dalam semua bidang kehidupan. Pada surat al-Baqarah terdapat contoh pihak-pihak yang berhak mendapat perlakuan Ihsan. 

Lebih lanjut, dalam hadis ini Rasulullah saw memberikan contoh lain tentang cara berlaku Ihsan. Jika harus membunuh (dalam peperangan), maka harus dilakukan dengan baik, dilakukan karena Allah Swt., bukan karena dendam atau yang lain, dan tidak pula menganiaya. Bahkan jika musuh menyerah, maka tidak boleh dibunuh. 

Kemudian pada bagian akhir dari hadis, Rasulullah saw mengajarkan cara berlaku Ihsan kepada binatang dengan menjelaskan adab menyembelih, yaitu agar pisau ditajamkan, dan binatang yang mau disembelih pun dibuat senang, dengan memberikan makan yang cukup. Jika binatang saja harus dipelakukan demikian, apalagi sesama manusia.

Berperilaku Mulia Sesuai Tuntunan Al-Quran dan Hadits

Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi yaitu: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur dalam beramal. Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selama hal itu adalah sesuatu yang diridhaiNya dan dianjurkan untuk melaksanakannya.

Untuk dapat naik ke maratabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sikap dan perilaku terpuji  yang harus dikembangkan terait dengan Ihsan ialah semua perbuatan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada sesama makhluk ciptaanNya. Secara ringkas perilaku tersebut ialah: 
1. Menjadikan masalah tauhid dan larangan syirik sebagai materi utama dalam menyampaikan nasihat
2. Melakukan ibadah ritual (salat, zikir, dan sebagainya) dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan;
3. Birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua), dengan mengikuti semua keinginannya jika memungkinkan, dengan syarat tidak bertentangan dengan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala;
4. Menjalin hubungan baik dengan kerabat;
5. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin;
6. Berbuat baik kepada tetangga;
7. Berbuat baik kepada teman sejawat;
8. Berbuat baik kepada tamu dengan memberikan jamuan dan penginapan sebatas kemampuan;
9. Berbuat baik kepada karyawan/pembantu dengan membayarkan upah sesuai perjanjian;
10. Membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik;
11. Membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan serupa;
12. Berlaku baik kepada binatang, dengan memelihara atau memperlakukannya dengan baik. Jika  menyembelih ataupun membunuh, lakukan dengan adab yang baik dan tidak ada unsur penganiayaan;
13. Menjaga kelestarian lingkungan, baik daratan maupun lautan dan tidak melakukan tindakan yang merusak.  

Untuk materi sebelumnya yang masih satu bab dengan materi ini silahkan buka link berikut ini: Memperoleh Rahmat Allah Dengan Berbuat Ihsan

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)